Senin, 12 Juli 2010

Kamar Mandipun jadi Tempat Tinggal Mereka

Sebut saja beliau Nenek Nia, seorang perempuan paruh baya yang tinggal bersama suaminya dan cucunya yang cacat. Tidak ada yang istimewa dari keluarga ini, bahkan memang tak ada yang bisa dibanggakan, tinggalnya saja pun di bekas sebuah kamar mandi ukuran 2x2m, sebuah tempat tinggal yang amat sangat TIDAK LAYAK untuk DIHUNI..wajar jika saya menyebutkan tidak ada yang bisa dibanggakan..LALU, sekarang saya balik bertanya, APA YANG BISA DIBANGGAKAN DARI KITA TERMASUK SAYA??!, melihat kondisi miris seperti ini, sungguh otak dan saraf saya tak habis pikir bagaimana bisa warga setempat betah dan merasa fine-fine saja melihat keadaan keluarga itu, kemana saja mereka??, dan KEMANA SAJA SAYA??!!
Beralaskan terpal, dengan selimut seadanya..kayu bakar mengepul yang tiap hari dijadikan bahan masak, ya..bahan masak yang mungkin barang yang langka bagi mereka. Bau pesing yang hampir membuat saya ingin muntah dan tersedak telah jadi udara biasa bagi mereka, makan nasi kecap saja senangnya sungguh luar biasa..Seorang Kakek yang berjuang menghidupkan isteri dan cucu perempuannya dengan memulung, biasa memang..tapi jadi tidak biasa kalau Kakek itu memulung sampai ketempat yang jauh..berhari-hari..dan dengan jalan kaki.
Herlina, gadis cantik berusia 12tahun, hanya bisa tidur dan terus tergeletak diatas kasur, bukan karena ia malas..tapi memang ia cacat dan tidak bisa melakukan apa-apa. Lagi-lagi kisah bocah yang tak tau apa-apa yang jadi korban kebodohan orangtua..ya, ibu dan ayahnya entah pergi kemana. hanya beberapa kali saja ibunya datang berkunjung..sungguh janggal kalimat ini "BERKUNJUNG"???!!

Alhamdulillah,
dengan adanya Pendataan Penduduk yang BAIK dari sebuah LEMBAGA, keluarga ini dapat terdeteksi dan bisa segera ditangani. Lembaga tersebut mengerahkan kemampuan seoptimal mungkin, mengatur strategi sebaik mungkin, agar keluarga ini dapat segera ditolong, usaha-usaha yang dilakukan sudah cukup konkrit..mereka tak hanya berusaha "Memberikan Ikan" tapi juga "Memberikan kail-nya", itulah yang memang seharusnya dilakukan. Sekarang kondisi seperti berbalik lagi melihat realita yang terjadi dengan daerah ini, Warga minim pendidikan, padahal PENDIDIKAN bagi WARGA sekitar itu sangat diperlukan. Mereka perlu diberikan berbagai seminar, pelatihan, dan penyuluhan, agar tidak ada lagi Nenek Nia-Nenek Nia selanjutnya, mungkin saja RT atau RW setempat tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, Klise memang..tapi ya berhusnudzon saja
Tapi tetap saja, logika saya tak bisa menerima alasan-alasan ini, apalagi jika ditanya soal PERASAAN.., padahal lingkungan disekitar tempat itu tergolong mampu, mereka sibuk membangun kos-kosan disana-sini, beradu harga yang naudzubillah selangit, tak pandang dari keluarga mana para mahasiswa ini datang. Warga memukul rata dengan harga 10juta, miris rasanya.
Sudah cukup, ini menjadi cambuk bagi kita..yang MERASA manusia dan memanusiakan manusia. jangan lagi ada Nenek nia untuk yang kedua dan seterusnya. jangan lagi ada Herlina-herlina selanjutnya..
Bagi saya atau mungkin kita yang sibuk dengan urusan pribadi, coba kita lihat spion kita lagi..yang sebelah kanan dan sebelah kiri, coba perhatikan lagi, jalan-jalan yang ada dihadapan kita. Dunia tak selebar daun kelor..banyak yang minta kita selesaikan, banyak yang minta kita tangani, karena hakikatnya jasad ini bukan hanya hak kita, ada hak orang lain dalam raga ini. Hak sesama saudara..
Sungguh dengan segala kerendahan hati, syukur ini harus senantiasa kita jaga dan pelihara sahabatku..
Dibalik semua ini..
kita serahkan kembali kepada Yang Maha Memiliki
sudah sejauh mana ibadah harian saya, kamu..kita
sudah seberapa banyak energi dan materi yang saya, kamu..kita berikan untuk Allah dan hamba-hambaNya
sehingga kita segera disadarkan, bahwa masih banyak diluar sana yang lebih membutuhkan pertolongan, dan masih banyak diluar sana yang membuat kita semakin bersyukur..dan bersyukur
TAK BOLEH ada lagi Nenek Nia yang lain
Tak boleh ada lagi, KAMAR MANDI lain yang dijadikan tempat tinggal
Naudzubillah minzalik..
Tapi, saya belajar banyak dari wanita paruh baya ini..
begitu tegarnya ia menghadapi kenyataan bahwa anak perempuan satu-satunya justru meninggalkan ia dan suaminya, begitu sabarnya ia mengasuh gadis belia yang kini tak bisa apa-apa karena lumpuh, begitu setianya ia menanti hari-demi hari kedatangan suaminya dari perjalanan mencari nafkah
Kalimat "Tak ada yang bisa dibanggakan" adalah salah..justru banyak yang bisa dibanggakan dari sosok Nenek Nia ini..

Allahualam bisawab
Bandung, 12072010
-MF-
Refleksi hati untuk mencambuk diri ini




4 komentar:

Abu Aasia mengatakan...

astaghfiruLLah wa atuubu ilayK ..
syukron. tulisan ini menjadikan ana ingat, begitu banyak ni'mat yg tdk ana syukuri selama ini :(

Marina Fauzia mengatakan...

afwan.
skedar saling mengingatkan dan pengingt diri sndiri jg..

winda az zukhruf mengatakan...

T___T

Marina Fauzia mengatakan...

:(