Senin, 28 Juni 2010

Api Sejarah

Ahmad Mansur Suryanegara, dosen luar biasa di jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaiora UIN Sunan Gunung Bandung ini kembali membuka persoalan sejarah yang ditutup oleh rezim Orde Baru. Buku yang diterbitkan Salamadani Pustaka Semesta ini isinya membongkar sejarah yang disembunyikan, khususnya kezaliman kaum nasionalis dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), penghilangan jejak peran ulama dan organisasi Islam dalam menegakkan NKRI, dan membongkar perselingkuhan kaum priyayi dengan penjajah Belanda.
Salah satunya tentang “gugatan” tentang hari kebangkitan nasional dan pembeberan beberapa organisasi pergerakan Indonesia yang sebenarnya tidak berjuang untuk Indonesia, tetapi untuk penjajah. Menurut penulis, yang pertama memperjuangkan gerakan nasional adalah Syarikat Islam, bukan Boedi Oetomo. Pada masa itu sengaja didirikannya organisasi Boedi Oetomo adalah untuk menandingi gerakan umat Islam yang bernama Jamiat Choir (hal.319). Bahkan, ada Serikat Dagang Islamiyah di Bogor merupakan tandingan dari Syarikat Dagang Islam (hal.326) yang kehadirannya mengkhawatirkan eksistensi perekonomian dan kepentingan imperialisme Belanda.
Ahmad Mansur Suryanegara juga menyajikan fakta tentang penghinaan terhadap Rasulullah saw yang dilakukan Partai Indonesia Raja (Parindra) pimpinan Dr.Soetomo dengan menurunkan artikel di Madjalah Bangoen, 15 Oktober 1937 (hal.508). Lebih banyak lagi persoalan sejarah yang dibongkar dalam buku Api Sejarah ini. Bahkan, menurut penulisnya, pahlwan nasional Sisingamaraja dan R.A Kartini itu beragama Islam dan sang Saka Merah Putih (bendera Indonesia) sebagai bendera Rasulullah saw.
Dalam bukunya, “kejahatan” orang-orang sekuler (pada masa lalu dan yang masih hidup) yang berperan dalam panggung sejarah Indonesia sangat tampak. Hadirnya buku-buku sejarah nasional atau Indonesia (yang ditulis para “sejarahwan istana”) telah mengekecilkan peran umat Islam dan tokoh-tokoh Islam terdahulu dalam membangun NKRI. Semangat membongkar “topeng” kepalsuan sejarah dan mewujudkan tentang pentingnya memahami sejarah inilah yang tampaknya sedang digaungkan dalam buku “Api Sejarah” ini.
Jelas, buku karya Ahmad Mansur Suryanegara ini kritis, dan tajam. Karena itu, buku sejarah seperti ini sudah harus menjadi bacaan “wajib” bagi generasi sekarang yang akan melangkah dan membuat sejarah masa depan Indonesia.
Pastinya, buku ini mengusik kesadaran generasi baru tentang sejarah sebenarnya yang sudah tertanam di benak sejak sekolah dasar. Mungkin agak terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali.


Sumber : http://ahmadsahidin.wordpress.com/2009/08/28/diskusi-buku-“api-sejarah”/
Buku yang musti dibaca dan di punya--tapi sayang belum kebeli T_T
info terbaru katanya naskah Jilid II Api sejarah ini sempat di curi http://www.goodreads.com/topic/show/255889-pencurian-naskah-buku-api-sejarah
hemmm...!!!
Bandung, 28062010
-MF-

5 komentar:

أسامة mengatakan...

brapa harganya?

Marina Fauzia mengatakan...

Harga resminya sekitar 120.000an, tapi lagi cari2 yg diskon, kalo diBandung namanya Palasari, tp kt temen udah habis, soalny kalo disana harganya bisa lebih murah lagi, tertarik?

أسامة mengatakan...

tertarik sich...tapi g pux uang. sama aja...hahay!jadi pengen nyari duit...
Jadi penjual aja...(ya...dipilih dipilih!diskon!)
gaje

sanggemintang mengatakan...

kereen ni buku. tp blm kelar juga bacanya, pdhl udh dr akhir 2009 kmrn. sejarah membuat sy hrs byk menyambi dg buku lain :p

btw,ada jilid II-ny kah?

Marina Fauzia mengatakan...

Ada mba, tapi rumornya sih naskahnya dicuri, ga tau juga sih mba..